Hari Kartini, hari seorang wanita yang lantang dalam memperjuangkan harkat seorang wanita dari ketertindasan yang telah menjadi hegemoni masyarakat jawa pada saat itu. Kartini adalah seorang wanita yang berusaha untuk memecah tradisi dengan kebangkitan dari keterpurukan para wanita Jawa. Tetapi Kartini juga adalah seorang wanita yang patuh dan taat terhadap perintah orang tua dan suaminya. Itulah sosok wanita besar yang bernama Kartini.
Di hari Kartini, setiap tahun dirayakan. Antara konde dan kebaya adalah pilihan sebagai pakaian seorang Kartini. Padahal esensi dari perjuangan seorang Kartini bukan terletak di konde dan kebayanya. Namun pada tingkat polah pikir dalam mengatasi masalah kewanitaan. Kartini merupakan sosok besar yang harus dipertahankan realitas dari watak seorang wanita di Indonesia. Perasaan lembut, patuh, berkasih sayang serta menjadi panutan bagi wanita-wanita yang lain.
Ada kesan setiap hari Kartini, semua media menciptakan sebuah ilustrasi-ilustrasi sendiri tentang sosok Kartini ini. Tapi satu yang tidak dapat dielakkan adalah, Kartini merupakan sosok seorang wanita yang mampu menjadi pelopor pembaruan tradisi yang tidak memihak keadilan dalam penyesuaian antara wanita dan laki-laki. Tetapi Kartini bukan seorang Feminimisme, yang dengan seenaknya mengenyahkan campur-tangan seorang wanita. Bukan, Kartini bukan wanita seperti itu!
Kartini adalah wanita yang mampu mempertahankan keutuhan keluarganya, tetapi Kartini juga mampu menjadikan wanita lain mendapatkan kesetaraan dalam menerima ilmu pengetahuan yang pada dasarnya setiap manusia boleh memperolehnya. Kartini bukanlah wanita yang congkak, yang menyatakan bahwa dirinya adalah individu sejati seorang wanita tanpa keberpihakan seorang pria. Bukan, bahkan suami Kartini yang notabenenya adalah seorang pembesar, menyatakan sangat beruntung dengan menjadikan Kartini sebagai istri ke tiganya. Kartini merupakan sosok yang bisa menjadi panutan bagi setiap wanita di jamannya. Rasa keibuan, tanggung-jawab, menyayangi keluarga serta menjadi wanita yang mampu memberikan kontribusi kepada wanita yang lain. Merupakan salah satu cirri wanita yang sangat mengagumkan.
Namun dijaman sekarang, emansipasi yang dikatakan wanita dengan merujuk Kartini menjadi terlihat menyimpang. Wanita yang bekerja (berkarier) dengan melupakan keluarga terutama anak-anaknya, hingga terbangkalai merupakan penyimpangan besar yang sangat dibenci oleh Kartini. Kesetaraan “gender” yang kebablasan, hingga merasa bangga dengan sosok kewanitaannya, adalah sebuah hal yang sangat dihindari oleh Kartini. Mereka mengatakan “Kami adalah Kartini-Kartini masa kini” padahal Kartini sendiri sangat tidak menyetujui apa yang sedang mereka lakukan!
Kartini adalah sosok wanita yang ideal, bagaikan sosok Khadijah yang selalu mengayomi. Mempunyai kemerdekaan dalam berfikir, namun menghindari kebablasan dalam berfikir. Kartini adalah sosok ibu, yang dapat menyayangi anak-anaknya dengan baik. Tidaklah seorang wanita berhasil karena dia menduduki jabatan disebuah perusahaan ataupun ditempat kerja yang lain. Tetapi menurut Kartini, wanita adalah sosok yang dapat menjadi penerang ketika cahaya suami dan anak-anaknya meredup. Menjadi penyejuk jiwa bagi keluarganya. Yah, inilah sosok Kartini yang sesungguhnya. Yang sangat bijak dalam memahami segala sesuatu yang ada. Yang sangat mahir dalam memberdayakan manusia lainnya. Bukan pembuat bingung wanita-wanita yang lain dengan hasil pikiran yang kebablasan. Inilah sosok Kartini!

Recent Comments