Selintas ketika saya dan istri sedang membaca koran. Entah kok istri saya berkata “mereka itu kok sombong sekali sih?” saya sedikit bingung dengan ucapan istri saya. “Maksud Ummi apa?” Tanya saya. Istri saya mengatakan “Iniloh Bi, kok Soetrisno Bachir menyatakan PKS bukan apa-apa!” setelah saya membaca berita tersebut, saya tersenyum. “Entahlah Mi, mereka sombong atau sok!?” ucap saya kepada istri. Setelah itu kami sedikit ngobrol masalah ini.
Mulai dari Pak Amien Rais, ketika didukung oleh PKS dan kalah dalam Pipres 2004 yang lalu. Pernyataan Pak Amien Rais langsung menggaung. Bahwa PKS tidak maksimal mendukungnya, bahwa PKS mendukung calon lain selain dirinya. Sampai-sampai fitnah-fitnah tentang PKS merebut aset-aset Muhammadiyah. Padahal jelas loh, kalau memang ada kader PKS merebut aset-aset Muhammadiyah, kader tersebut bisa dilaporkan ke DPP PKS. Dan Ustad Tifatul sendiri sudah menyatakan, jika ada kader PKS merebut aset-aset ormas manapun, silakan dilaporkan ke DPP PKS, atau kalau mau langsung bisa di perkarakan di pengadilan.
Tetapi buktinya sampai sekarang juga nggak ada ormas manapun yang melapor ke DPP PKS ataupun memperkarakan di pengadilan. Jadi jelas ini fitnah! Jika Pak Amien Rais menyebutkan langsung “PKS” saat ceramah di Banyuwangi pasti langsung ditabayunin oleh pembesar-pembesar PKS. Cuman sayang, Pak Amien sendiri hanya menyebut “Partai Dakwah” jadi mungkin Pak Amien takut juga yah kalau seandainya di somasi. Tetapi sebenarnya Pak Amien nggak usah takut, karena PKS sendiri tidak akan memperkarakan secara hukum seorang Saudara Islam. Jika memang tidak benar-benar kebablasan!
Nah, setelah itu Pak Soetrisno Bachir menyatakan PKS bukan apa-apa! Tapi sebenarnya saya lebih tertarik membaca artikelnya Dahlan Iskan (owner Jawa pos) yang menyatakan “Bukan orang yang berakal sehat jika PKS bukan musuh utama semua partai”. Tulisan artikel Dahlan Iskan lebih membuat akal sehat saya terbuka sehingga menulis “Musuh itu bernama PKS!”
Dari pernyataan Pak Soetrisno Bachir ini lucu. Jika benar-benar Dede Yusuf itu yang menjadi pablik figurnya, lalu kenapa dahulu Soetrisno Bachir menyatakan “Dede Yusuf hanya mendongkrak suara saja” jadi benar-benar lucu. Plin-plan kalau membuat keputusan. Jika dulu Pak Amien Rais “ngambek” dengan PKS, maka sekarang Pak Seoetrisno Bachir “sok” merasa besar ketimbang PKS. Kalau jumlah dewannya PKS memang kalah dengan PAN, tapi Jumlah suaranya masih banyakan PKS loh! Dan lihat bagaimana Kader PAN tidak seluruhnya mendukung Dede Yusuf untuk menjadi seorang Bacawagub. Stutment-stutment miring di tujukan kepada Dede Yusuf. Bahkan Kader PAN juga ada yang memilih membela calon lain ketimbang pilihan Ketuanya sendiri. Padahal sangat lucu sekali, jika sebuah Partai yang dipimpin tersebut saling mempunyai jalan sendiri-sendiri. Jelas sekali, arah kedepannya pasti kacau!
Kami ini keluarga Muhammadiyah, saya sendiri dulu tergabung di Tapak Suci. Nah kalau ada kampanye, Tapak Suci diturunkan untuk menjadi BM (Barisan Muda) PAN atau Hisbullah dari PBB. Dan selama di Tapak Suci, saya belum pernah mendengar anak-anak Tapak Suci diterjunkan untuk menjadi Kepanduan dari PKS. Nah ini yang memanfaatkan aset ormas sebenarnya siapa yah?
Saya sendiri sangat menyayangkan pihak Muhammadiyah, hingga melarang kader-kadernya untuk terjun di “partai dakwah”. Hingga berbagai ancaman dilontarkan, bahkan salah satu guru saya tidak di gaji karena pernah mencalonkan diri menjadi Caleg dari PKS. Bahkan orang yang kami anggap Ustad, harus menutup pintunya ketika kami mau bersilahturahim. Karena takut ketahuan kader PKS datang kerumahnya. Masya Allah! Tapi sebenarnya masih banyak juga kok kader PKS yang tetap berada di Muhammadiyah. Bahkan ada seorang dokter dari RS Muhammadiyah pernah menyatakan pada saya “Sebenarnya kami dokter-dokter pernah di Briefing langsung oleh pusat Muhammadiyah. Untuk berhati-hati dan mewaspadai virus tarbiyah. Padahal semua dokter yang ada disitu sudah positive terjangkit virus Tarbiyah semua!”
Namun saya masih tetap menganggap Muhammadiyah adalah rumah yang plural, yang dapat menampung semua partai. Walaupun memang ada orang-orang Muhammadiyah yang kurang dewasa mensingkapi pluralitas ini. Dan ngaji saya tetap lebih sering di Muhammadiyah, walaupun kadang juga sering di Hizb”Salafi”. Karena saya menganggap umat Islam itu bersaudara, tidak terkotak-kotakkan karena Tandzhim ataupun organisasi dan partai. Umat Islam harus bersatu, walaupun ada beberapa umat Islam yang merasa bangga dengan dirinya sendiri maupun partai dan organisasinya. Wallahu’alam.
Tulisan yang berhubungan dengan ini juga ada disini

Recent Comments